manusia memiliki dua ego yang saling bersebrangan, berbeda.
baik dan buruk, namun seiring waktu sepertinya ego itu akan terus berkembang melahirkan banyak ego lainnya.
kebaikan, sebuah ego yang sering kali menjadi tolak ukur antar manusia kadang menipu.
Keburukan, alat pengukur kejahatan yang juga tidak saja lantas menjadi sebuah acuan manusia untuk menghakimi manusia lainnya dengan tuduhan tanpa dasar, tanpa moral, dan tanpa arti.
kebaikan dan keburukan adalah sebuah asumsi yang membuat seorang manusia memberikan persepsi mereka terhadap ciptaan sang Kuasa.
relatif, karena semua tidak akan sama, semua tidak akan pasti dalam menilai suatu hal, sehingga manusia sering kali dibuat bingung oleh pemikiran mereka sendiri.
kebaikan yang sempurna adalah sebuah sanksi untuk tetap dijadikan predikat yang pantas untuk seseorang memang mungkin "terlihat" baik, dan begitu sebaliknya terhadap keburukan, karena tidak semua manusia memang "hitam".
"hati manusia adalah sebuah kotak pandora dalam kehidupan manusia."
09.42 wib Purwakarta, 22 Januari 2011
saat suara ku tak terdengar, maka barisan kata mampu membuat ku terlihat
Entri Populer
-
mengapa tidak semua perasaan mampu terucap keluar padahal, ketika apa yang kita rasakan terucap, mungkin akan menambah ruang lega dalam diri...
-
aku tau awanmu, runtuh sebelum sempat ia menghitam, mendung kini saat kau rindu, tanah pijak mu tak lagi basah padahal, pernah kau abaik...
-
"aku memimpikan kisah cinta negeri dongeng.." "bah! itu lelucon, nak.. jangan kau masuk dalam impian sampah itu" ...
-
ego manusia, sekeras batu, setajam karang ego cinta, selembut angin, serapuh kelopak ego ku, untuk mencintaimu
-
cinta untuk aku cinta untuk dia dia dan malam saksi biru dan bisu cintaku rapuh, cintaku malam itu karena ragu terlalu menderu cinta un...
-
mencintai dengan segala kurangmu membuat perjuangan begitu berarti memilikimu karena cintaku membuat kehidupan begitu ku syukuri meningg...
Senin, 07 Maret 2011
ego
ego manusia,
sekeras batu, setajam karang
ego cinta,
selembut angin, serapuh kelopak
ego ku,
untuk mencintaimu
sekeras batu, setajam karang
ego cinta,
selembut angin, serapuh kelopak
ego ku,
untuk mencintaimu
saat ini
mencintai dengan segala kurangmu
membuat perjuangan begitu berarti
memilikimu karena cintaku
membuat kehidupan begitu ku syukuri
meninggalkan setiap jejak lalu
mencoba menapaki sebuah kehidupan baru
11.52 wib Purwakarta, 18 januari 2011
membuat perjuangan begitu berarti
memilikimu karena cintaku
membuat kehidupan begitu ku syukuri
meninggalkan setiap jejak lalu
mencoba menapaki sebuah kehidupan baru
11.52 wib Purwakarta, 18 januari 2011
Pagi di Wanayasa
Pagi Wanayasa,
selimut angin berlari dengan menggenggam dingin hujan
ribuan titik air, ratusan gumpalan embun bahasa pagi
dan,
jutaan rasa rindu
mengetuk, menyapa, meninggalkan
08.00 wib Purwakarta, 17 Januari 2011
selimut angin berlari dengan menggenggam dingin hujan
ribuan titik air, ratusan gumpalan embun bahasa pagi
dan,
jutaan rasa rindu
mengetuk, menyapa, meninggalkan
08.00 wib Purwakarta, 17 Januari 2011
matinya sang rindu
serapuh mawar, setajam duri
kerinduan yang berdiri sendiri tanpa sangga
rapuh,
jatuh ke tanah
dilihat sang bulan, ditangisi oleh sang bintang
pagi ini,
sekali lagi tak bernyawa
kerinduan yang berdiri sendiri tanpa sangga
rapuh,
jatuh ke tanah
dilihat sang bulan, ditangisi oleh sang bintang
pagi ini,
sekali lagi tak bernyawa
07.59 wib Purwakarta, 17 januari 2011
Langganan:
Komentar (Atom)